Oleh DR HW.
Sebagai pelajar, kita terbiasa hidup dalam batasan rumus dan logika. Di sekolah, kita diajarkan bahwa jarak dibagi kecepatan menghasilkan waktu, dan segala sesuatu yang tidak masuk akal sering kali dianggap fiksi. Namun, ketika kita berbicara tentang Isra Mikraj, seluruh kalkulator intelektual kita seolah mengalami error. Bagaimana mungkin sebuah perjalanan lintas dimensi dari Mekkah ke Yerusalem hingga menembus lapis ketujuh langit bisa tuntas hanya dalam satu malam? Di sinilah titik balik bagi kita sebagai peserta didik: untuk menyadari bahwa di atas kecerdasan kognitif yang kita asah setiap hari, ada kuasa Tuhan yang melampaui segala teori fisika yang pernah kita pelajari di ruang kelas.
Peristiwa ini adalah pengingat bahwa menuntut ilmu bukan sekadar tentang seberapa banyak kita menghafal isi buku teks, melainkan tentang bagaimana kita memperluas cakrawala berpikir. Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan melampaui batas orbit bumi mengajarkan kita untuk memiliki “mentalitas langit”—sebuah tekad untuk tidak pernah berhenti belajar meski tantangan terlihat mustahil. Jika logika kita sering kali terjebak pada rasa malas atau rasa takut gagal saat menghadapi ujian, Isra Mikraj memberikan perspektif baru: bahwa dengan izin-Nya, keterbatasan manusia bisa ditembus. Kita belajar bahwa menjadi pintar saja tidak cukup; seorang siswa yang sejati adalah dia yang mampu menyeimbangkan kecanggihan otaknya dengan kerendahan hati hatinya.
Pada akhirnya, “oleh-oleh” berupa shalat lima waktu yang dibawa Rasulullah dari perjalanan agung tersebut adalah instrumen paling logis untuk menjaga kewarasan kita sebagai pelajar. Di tengah gempuran tugas, proyek, dan ekspektasi nilai yang melelahkan, shalat menjadi titik henti di mana kita melepaskan semua logika beban hidup dan berserah pada kuasa Tuhan. Isra Mikraj membuktikan bahwa puncak tertinggi dari sebuah perjalanan mencari ilmu bukanlah gelar atau pujian, melainkan pertemuan hamba dengan Sang Pencipta. Maka, bagi kita para pencari ilmu, marilah terus melangkah menembus batas-batas ketidaktahuan kita, sambil tetap membumi dalam setiap sujud yang kita lakukan.
